SUKABUMI, Matapubliknews.com— Pemerintah Desa Karangjaya, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, menggelar rembuk stunting untuk merumuskan langkah pencegahan dan penurunan angka stunting pada tahun mendatang. Dalam forum tersebut, sebanyak 33 anak tercatat menjadi perhatian dalam upaya penanganan stunting di desa tersebut.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Desa Karangjaya, Selasa (27/10/2026), itu melibatkan unsur pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kader kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, serta unsur terkait lainnya. Forum ini menjadi ruang untuk menghimpun masukan sekaligus menyusun arah kebijakan penanganan stunting dalam perencanaan program desa.
Camat Gegerbitung, Sri Yuliani, yang hadir sebagai narasumber, mengatakan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Upaya tersebut tidak cukup hanya berfokus pada anak yang telah terindikasi stunting, tetapi juga perlu menyasar ibu hamil, remaja, serta keluarga yang memiliki anak berisiko mengalami gangguan pertumbuhan.
Menurut Sri, edukasi kepada masyarakat perlu diperkuat agar keluarga memahami pentingnya pemenuhan gizi, pemantauan tumbuh kembang anak, serta perawatan ibu selama kehamilan. Langkah pencegahan sejak dini dinilai penting untuk mengurangi risiko gangguan pertumbuhan pada anak.
“Dalam rembuk ini, semua pihak berpartisipasi memberikan ide dan gagasan tentang apa yang perlu dilakukan pemerintah desa untuk menangani dan menurunkan angka stunting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanganan stunting memiliki tantangan tersendiri. Anak yang mengalami stunting tidak selalu menunjukkan kondisi kekurangan gizi secara langsung. Karena itu, penanganannya perlu mempertimbangkan riwayat pertumbuhan, kondisi kesehatan, asupan gizi, serta faktor lain yang memengaruhi tinggi badan anak.
Sri juga menyoroti pentingnya ketepatan pengukuran tinggi badan dan berat badan dalam proses pemantauan. Kesalahan pengukuran maupun penggunaan alat yang tidak memadai dapat memengaruhi pencatatan status pertumbuhan anak.
“Pengetahuan kader harus terus ditingkatkan. Kesalahan pengukuran atau penimbangan bisa terjadi karena keterbatasan pengetahuan maupun peralatan yang tidak berfungsi dengan baik,” katanya.
Karena itu, peningkatan kapasitas kader menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Kader diharapkan terus memperbarui pengetahuan, memahami prosedur pengukuran yang benar, serta melakukan pemantauan secara cermat agar data yang digunakan sebagai dasar kebijakan benar-benar akurat.
Sekretaris Desa Karangjaya, Sudrajat Umar, berharap rembuk stunting menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh unsur masyarakat dalam mencegah dan menurunkan angka stunting di wilayahnya.
Menurutnya, penanganan stunting membutuhkan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah desa, kader kesehatan, tenaga medis, dan keluarga, sehingga langkah yang dirumuskan tidak berhenti pada forum musyawarah, tetapi diwujudkan melalui program nyata.
Ia juga berharap berbagai masukan yang disampaikan dalam rembuk tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan dan prioritas program desa pada tahun mendatang. Edukasi kepada ibu hamil, remaja, serta orang tua yang memiliki anak berisiko stunting perlu diperkuat agar kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemenuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak semakin meningkat.
Sudrajat berharap, melalui koordinasi yang baik dan pendampingan secara berkelanjutan, upaya pencegahan stunting di Desa Karangjaya dapat berjalan lebih terarah, tepat sasaran, dan memberikan dampak nyata bagi kesehatan serta masa depan generasi mendatang.
Dalam kegiatan tersebut, hadir pula Babinsa Karangjaya Imron Sadewo, pendamping desa Epul, serta Kepala Puskesmas Juanda. Kehadiran unsur lintas sektor diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Rembuk stunting ini juga menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi kebutuhan di tingkat keluarga, termasuk
edukasi bagi ibu hamil dan remaja serta pendampingan terhadap anak yang membutuhkan perhatian khusus.
Ke depan, tantangan pemerintah desa bukan hanya memastikan kegiatan sosialisasi terlaksana, melainkan menerjemahkan hasil rembuk menjadi program yang terukur. Data anak yang menjadi perhatian perlu ditindaklanjuti dengan pemantauan berkala, pendampingan keluarga, dan koordinasi dengan tenaga kesehatan sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Dengan demikian, rembuk stunting diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi dasar bagi kebijakan desa yang berkelanjutan untuk mendukung tumbuh kembang anak dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Karangjaya.
Prima RK


Social Footer