SUKABUMI, Matapubliknews.com— Perselisihan antara Evi Fitria (40), warga Subangjaya, Kota Sukabumi, dengan seorang pria berinisial EW berujung pada dugaan penganiayaan di kawasan depan Kafe Oasis, Kota Sukabumi, Jumat (2/10/2026) sore.
Evi mengaku mengalami benturan pada bagian kepala dan gangguan pada telinga setelah terlibat perselisihan dengan EW yang merupakan ASN dilingkungan Pemkot Sukabumi, yang disebutnya sebagai suaminya.
Kepada wartawan di kediamannya, Evi mengatakan persoalan tersebut berawal dari masalah pribadi dan keuangan yang menurut pengakuannya telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Ia menuturkan, sebelum kejadian, dirinya beberapa kali mencoba menghubungi EW melalui telepon dan pesan WhatsApp. Namun, upaya tersebut disebut tidak mendapat respons.
Pada Jumat sore, Evi bersama sejumlah rekannya baru selesai makan di kawasan The Forest, Salabintana. Dalam perjalanan pulang melalui Jalan Siliwangi, ia mengaku melihat kendaraan yang dikemudikan EW.
Evi kemudian memutar balik kendaraannya dan mengikuti mobil tersebut. Menurut dia, langkah itu dilakukan karena ingin meminta penjelasan mengenai persoalan yang belum terselesaikan.
“Awalnya tidak ada niat apa-apa. Kami habis makan dari The Forest, Salabintana, kemudian mau pulang. Di Jalan Siliwangi saya berpapasan dengan mobilnya EW,” kata Evi.
Evi mengaku sempat mendatangi kediaman EW. Namun, pria tersebut tidak berada di lokasi. Dalam perjalanan berikutnya, keduanya kembali berpapasan di sekitar kawasan Kafe Oasis.
Di lokasi tersebut, Evi mengaku menghentikan kendaraan EW dan meminta penjelasan. Ia kemudian turun dari mobil dan menghampiri EW.
“Saya halangi mobilnya karena saya juga membawa mobil. Saya turun, kemudian kami ngobrol. Awalnya biasa saja,” ujarnya.
Menurut Evi, percakapan kemudian berubah menjadi pertengkaran. Ia mengaku terjadi aksi saling pukul dalam situasi yang memanas.
“Dia tiba-tiba teriak. Karena mungkin sama-sama kesal, akhirnya terjadi baku hantam. Dia memukul saya, kena di telinga sampai berdengung dan juga di kepala,” tuturnya.
Evi mengatakan dirinya berusaha menepis dan menghindari pukulan tersebut. Setelah kejadian itu, ia mengaku mengalami benjolan pada bagian kiri kepala serta gangguan pada telinga.
Perselisihan tersebut, menurut Evi, belum berhenti sampai di situ.
Ia mengaku EW kemudian mengambil senjata tajam jenis golok dari dalam kendaraan. Evi menyebut terdapat rekaman video yang memperlihatkan momen tersebut.
“Setelah itu saya pikir sudah selesai. Ternyata dia mengambil senjata tajam dari mobilnya, membawa golok. Ada videonya ketika dia mengambil senjata tajam itu dan mengarahkannya kepada saya,” ujar Evi.
Evi mengaku memilih menjauh karena khawatir keselamatannya terancam.
“Saya menghindar. Saya juga tidak mau mati konyol. Tujuan saya sebenarnya hanya ingin uang saya dikembalikan,” katanya.
Di balik perselisihan tersebut, Evi menyebut ada persoalan keuangan dengan nilai mencapai ratusan juta rupiah.
Menurut dia, persoalan itu telah berlangsung sejak sebelum keduanya menikah dan terjadi dalam beberapa kesempatan.
“Masalah keuangan itu terjadi sebelum pernikahan. Kejadiannya sudah lama, bahkan sudah bertahun-tahun. Ada beberapa kejadian. Yang pasti, uang itu sekarang sudah tidak ada,” ucapnya.
Evi mengakui tidak memiliki dokumentasi berupa foto atau video ketika uang tersebut diserahkan. Ia mengatakan transaksi dilakukan secara tunai karena saat itu dirinya masih menaruh kepercayaan kepada EW.
“Bukti penyerahan uangnya tidak ada. Waktu itu saya percaya saja. Memang memberikan uangnya secara cash. Saya tidak foto atau video,” katanya.
Evi mengatakan persoalan tersebut menjadi salah satu alasan dirinya memilih menempuh jalur hukum.
“Saya hanya minta keadilan. Saya sudah capek. Ini bukan uang satu atau dua juta. Nilainya ratusan juta, dan bagi saya itu sangat besar,” ujar Evi.
Selain masalah keuangan, Evi mengungkap persoalan mengenai status rumah tangganya dengan EW.
Ia mengatakan dirinya masih berstatus sebagai istri EW. Menurut Evi, sebelum pernikahan, EW memperkenalkan diri sebagai seorang duda.
“Waktu menikah dengan saya, dia mengaku duda. Karena dia mengaku duda, orang tua saya juga menyarankan untuk menikah. Akhirnya saya menikah dengan dia,” tutur Evi.
Evi juga menyinggung keberadaan seorang perempuan yang menurut pengakuannya berada bersama EW ketika peristiwa tersebut terjadi.
Ia mengatakan baru mengenal perempuan tersebut setelah kejadian.
“Saya mengenal perempuan itu setelah kejadian ini. Sebelumnya saya tidak mengenal,” katanya.
Setelah kejadian, Evi mengaku langsung menjalani pemeriksaan medis untuk keperluan visum. Ia juga mengatakan telah membuat laporan kepada kepolisian.
“Setelah kejadian langsung saya visum. Laporan ke polisi juga sudah,” ujarnya.
Evi berharap proses hukum dapat berjalan sehingga persoalan yang disebutnya telah berlangsung lama dapat memperoleh penyelesaian.
Ia juga berharap konflik tersebut tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
“Kalau hukum memang mau ditegakkan, tegakkan sekarang. Saya sudah capek. Dia sekarang mau dengan siapa pun, terserah. Yang pasti, selesaikan dulu masalah dengan saya,” kata Evi.
Hingga berita ini diterbitkan, EW belum memberikan keterangan mengenai dugaan penganiayaan maupun sejumlah persoalan lain yang disampaikan Evi.
Keterangan dari EW dan pihak-pihak terkait tetap diperlukan untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai peristiwa tersebut. Hak jawab dan klarifikasi terbuka sesuai prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.
Prima RK


Social Footer