Matapubliknews.com

Sentuhan Akhir yang Berarti: SPPG Mutiara Pelabuhan 1 Citamiang Sajikan MBG Prasmanan di Perpisahan MAN 1

SUKABUMI — Pelepasan siswa kelas XII MAN 1 Kota Sukabumi, Sabtu (9/5/2026), menghadirkan penutup yang tak biasa. Di tengah suasana perpisahan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampil dalam format berbeda: prasmanan. Bukan sekadar variasi penyajian, melainkan penegasan bahwa akhir masa sekolah juga layak ditandai dengan pengalaman yang berkesan.

Sebanyak 332 porsi makanan disiapkan oleh SPPG Yayasan Mutiara Pelabuhan 1 Citamiang, menyesuaikan kebutuhan sekolah. Menu yang dihidangkan pun lebih istimewa dari biasanya—nasi biryani, ayam bakar, perkedel, acar, hingga buah—mencerminkan upaya menghadirkan sentuhan khusus di momen peralihan para siswa.

Kepala SPPG, Mutiara Citamiang, Gilbert Erwin Efendi, menyebut perubahan konsep ini sebagai respons atas berakhirnya akses siswa terhadap program MBG setelah lulus. Karena itu, pendekatan yang diambil tidak lagi sekadar distribusi rutin, tetapi dikemas sebagai bentuk penghargaan.

“Ini bukan hanya soal makan bersama, tetapi bagaimana program ini ditutup dengan cara yang layak dikenang oleh siswa,” ujarnya.

Di balik konsep yang lebih fleksibel, aspek utama program tetap dijaga. Standar gizi tidak ditawar, dengan pengawasan langsung dari tim pemorsian agar setiap sajian tetap sesuai ketentuan ahli gizi.

“Format boleh berubah, tetapi kualitas dan nilai gizi tetap menjadi pijakan utama,” kata Gilbert.

Dari sisi sekolah, langkah tersebut dipandang sebagai hasil kolaborasi yang responsif. Perwakilan MAN 1 Kota Sukabumi, Siti Madia Ulfah, mengungkapkan bahwa ide prasmanan berasal dari pihak sekolah dan langsung diakomodasi oleh SPPG.

“Respons cepat ini menunjukkan adanya keselarasan antara kebutuhan sekolah dan pelaksana program,” ujarnya.

Selama program MBG berjalan, ia menilai distribusi berlangsung konsisten tanpa keluhan berarti dari siswa. Mulai dari variasi menu hingga ketepatan waktu pengiriman, seluruhnya dinilai memenuhi harapan.

Lebih jauh, ia melihat konsep prasmanan ini membuka kemungkinan pendekatan baru dalam pelaksanaan program ke depan—tidak hanya sebagai intervensi gizi, tetapi juga bagian dari pengalaman sosial siswa di sekolah.

Perpisahan pun menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjelma menjadi ruang refleksi—bahwa sebuah program publik, ketika dikelola dengan sentuhan adaptif, mampu meninggalkan kesan yang melampaui fungsi utamanya.

Prima RK































Type and hit Enter to search

Close