SUKABUMI — Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 di Kota Sukabumi tak sekadar seremoni tahunan. Di balik upacara yang berlangsung di Halaman Setda, Rabu (20/5/2026), terselip pesan politik tentang kedaulatan—yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah.
Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menegaskan bahwa semangat kebangkitan nasional harus dimaknai sebagai upaya nyata memperkuat kedaulatan bangsa, bukan sekadar slogan yang berulang setiap tahun.
“Sudah 118 tahun lalu para pemuda menginginkan Indonesia bangkit. Hari ini, kita bicara bagaimana kedaulatan itu benar-benar hadir,” ujar Ayep.
Namun, pernyataan itu berhadapan dengan realitas di daerah. Kedaulatan yang dimaksud, menurut Ayep, belum sepenuhnya dirasakan masyarakat luas. Ia mengakui, manfaat pembangunan masih kerap terpusat pada kalangan tertentu.
“Jangan hanya dinikmati pejabat dan elite politik. Kedaulatan itu harus dirasakan seluruh masyarakat,” katanya.
Pernyataan tersebut secara implisit mencerminkan adanya kesenjangan antara idealisme kebangkitan nasional dengan kondisi riil di lapangan—mulai dari kemiskinan ekstrem, stunting, pengangguran, hingga persoalan infrastruktur dan kawasan kumuh yang belum terselesaikan.
Ayep menyebut, arah kebijakan pemerintah daerah tetap bertumpu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Namun, daftar prioritas yang ia sebutkan menunjukkan beban pekerjaan yang tidak ringan.
“Fokus kami menyelesaikan kemiskinan ekstrem, stunting, pengangguran, infrastruktur, dan rumah kumuh,” ujarnya.
Di titik ini, Harkitnas menjadi lebih dari sekadar refleksi sejarah. Ia berubah menjadi cermin atas sejauh mana pemerintah mampu menerjemahkan semangat kebangkitan ke dalam kebijakan yang menyentuh kebutuhan dasar warga.
Ayep juga menyinggung peran generasi muda, yang menurutnya harus menjadi bagian dari proses kebangkitan, bukan sekadar penonton dari agenda pembangunan.
“Ini bukan seremoni. Ini pengingat bahwa kesejahteraan harus benar-benar dirasakan semua,” ucapnya.
Peringatan Harkitnas ke-118 di Sukabumi pun menegaskan satu hal: seruan tentang kedaulatan akan selalu terdengar kuat di podium, tetapi ukurannya tetap sama—seberapa jauh ia hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Prima RK


Social Footer